Kisah pertemanan Theo Sambuaga dan Sinyo Sarundajang…

MANADO–Hujan rintik membasahi wilayah Kawangkoan, Minggu (1/6) tak menyurutkan niat Theo L Sambuaga berziarah ke makam mantan Gubernur Sulut, Sinyo Harry Sarundajang. Theo tampak antusias ketika turun dari mobil yang membawanya dari Manado.

Ditemani mantan wartawan Ferry BM Rende, Theo bergegas menuju bangsal, teras rumah keluarga Sarundajang Tambuwun Laoh. Di sana Theo bercerita kepada sejumlah orang mengenai keakraban hubungan dirinya dengan SHS dan istrinya Deitje Tambuwun Laoh yang berlangsung cukup lama saat berusia 15 tahun. “Momentum 1 Juni hari kelahiran Pancasila saya dedikasikan untuk bung Sinyo. Beliau seorang nasionalis sejati, “tuturnya.

Kebetulan hari itu keluarga anggota Sarundajang Tambuwun Laoh tidak berada di rumah. Menurut Theo, sudah mengabarkan ziarah ke salah satu putra SHS, Fabian Sarundajang. Theo juga meminta izin kepada Deitje Tambuwun Laoh melalui sambungan telepon. Meski tanpa tuan rumah, tuan rumah menyediakan kopi dan serta biapong serta kacang tore Kawangkoan.

Zesty Sambul, saudara sepupu Theo ikut ziarah siang itu menghubungi ibu Deitje kemudian memberikan telepon selulernya kepada Theo. “Terima kasih Sus Dei, kami sudah dijamu kopi dan biapong, ” kata Theo.

Theo menuturkan kisah pertemanan dengan SHS dari organisasi pelajar Gerakan Siswa Nasionalis Indonesia dekade tahun 1960. Meski usia Theo dan SHS terpaut empat tahun, keduanya bergaul akrab dan tampil menjadi tokoh dari organisasi itu.
“Bung Sinyo lebih dulu di GSNI baru saya, ” katanya. Dari organisasi itu, Theo terus berkembang saat bersekolah di SMA Negeri 1 Manado. Dia terpilih menjadi anggota Paskibraka nasional mewakili Sulawesi Utara. “Waktu SMA, ibu Dei adik kelas saya, katanya.

Kisah pertemanan Theo dan SHS terus berlanjut, karier keduanya di bidang politik dan birokrasi tergolong sukses. Sederet pencapaian Theo di politik melalui partai Golkar antara lain menjadi anggota DPR RI tiga periode. Theo juga terpilih ketua parlemen Indonesia, seterusnya menjadi menteri Tenaga Kerja era Presiden Soeharto. Sementara SHS, sukses menjadi Walikota Bitung selama 15 tahun, kemudian menjadi Gubernur Sulut dan Duta Besar Filipina.

Dalam kurun waktu dua tahun Theo juga sempat menjabat Menteri Perumahan Rakyat dan Permukiman tahun 1998 hingga 1999.

Cerita lucu terjadi saat menjadi menteri berkunjung ke Sulawesi Utara, Theo dijemput di bandara Walikota Bitung SHS dan Gubernur E. E Mangindaan. “Para senior menjemput junior, torang bakusedu di bandara, terus tertawa bersama, ” ucap Theo.

Theo yang 6 Juni nanti berusia 76 tahun tampak semangat. Penampilan perlente, ayah dua orang anak dikenal masyarakat Sulawesi Utara. Anak keduanya Jerry Sambuaga mengikuti jejak Theo, menjadi tokoh muda Golkar terus menjadi wakil menteri perdagangan.

Wartawan senior Albert Kuhon menyebut Theo adalah tonaas sejati Minahasa. “Masih gagah, bung Theo dulu hampir diangkat jadi menteri luar negeri era Soeharto,” kata Kuhon, mantan wartawan Kompas dan Sinar Harapan, sempat bertugas di Amerika Serikat.

Ketua Kaum Bapa KGPM, Steven Supit mengatakan Theo sosok politisi yang terus berada di panggung nasional. “Bung Theo idola saya, politisi hebat dimiliki Sulawesi Utara, ” kata Steven. Ini sedikit cerita tentang Theo Sambuaga dan Sinyo Harry Sarundajang yang kami kenal. (Jean Rizal Layuck)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *